Dia baik sekali. Seseorang ini baru saja kukenal satu bulan lebih beberapa hari. Dia...mengapa begitu baik padaku? Aku sejujurnya sangat takut jika lagi lagi dia adalah hanya salah satu orang yang datang sekadar untuk singgah. Bukan untuk seterusnya menetap. Benar benar takut rasanya, karena sepertinya rasa nyaman itu sudah mulai hadir kembali. Aku tak begitu suka tentang hal itu, karena bisa saja, bahkan sangat memungkinkan, rasa nyaman itu hanya akan menjadi hal yang menyakitkan pada akhirnya. Aku benar benar lelah membayangkan jika aku harus melewati fase-fase itu lagi, fase-fase yang sudah berulang kali aku lewati. Mengapa semua lelaki seperti itu? Buktikan padaku jika memang benar tidak semua lelaki itu sama.
Tapi tak tau mengapa, aku rasanya begitu yakin dengan sosok baru ini. Aku, sejujurnya, bukan orang yang mudah percaya pada orang baru apalagi setelah aku melewati banyak hal sebelumnya. Aku juga bukan orang yang mudah mengiyakan ajakan orang baru untuk sekadar pergi berjalan-jalan, setidaknya butuh 3 minggu atau satu bulan bahkan lebih untukku sampai aku mau untuk bertemu dengan orang baru yang kukenal lewat media sosial. Namun kali ini berbeda. Aku merasakan hal yang berbeda.
Saat itu baru saja beberapa hari aku mengenal orang ini, kurang dari satu minggu. Entahlah bagaimana ceritanya sampai kami mulai intens chatting dan terbiasa mengabari satu sama lain, sampai berbagi cerita tentang kehidupan. Aku belum banyak tau tentangnya pada saat itu, bahkan umurnya pun aku tak tau. Sampai akhirnya dia mengajakku bertemu dan aku bahkan sampai sekarang tak pernah mendapatkan jawabannya mengapa aku mengiyakan ajakan itu. Ajakan dari seseorang yang baru kukenal beberapa hari. Rasanya aku tak ingin menolak, entahlah bagaimana aku harus menjelaskan perasaan ini, tapi aku benar benar tak ingin menolak. Padahal, jujur saja, hari itu bukan hanya orang ini yang mengajakku untuk bertemu, bahkan ada orang lain yang sudah chatting denganku lebih lama juga mengajakku bertemu. Tapi rasanya berbeda, aku merasa takut dan tak sedikitpun ingin mengiyakan ajakan orang itu.
Gugup? Iya. Takut? Tentu. Bahkan saat hari dimana kita akan bertemu, aku masih saja mencari cara untuk membatalkan pertemuan itu. Waktu itu dia mengajakku menonton film Toy Story. Paginya di hari itu dia menanyakan "hari ini jadi nonton?", aku tak menjawab dengan pasti karena aku sebenarnya ingin mengulur waktu. Aku malah menanyakan kembali hal yang sama "mau jadi nih?", biasanya jika aku membalas seperti itu, orang akan merespon dengan kembali mempertanyakan sampai akhirnya tak jelas. Namun, dia tidak. Dia membalas "hayuuuu, mau jam berapa?" beserta screenshot jadwal tayang film Toy Story yang membuatku benar benar kehabisan ide untuk mengulur-ulur waktu lagi. Akhirnya kuserahkan semuanya pada dia dalam hal memilih jadwal ataupun tempat.
Setelah selesai persoalan tentang tiket, aku kembali berpikir "aku berangkat gimana nih? Kalau mau dijemput gimana bilangnya ya? Atau ketemu di tempat aja ya?", tapi ternyata aku tak perlu repot repot berpikir tentang hal hal seperti itu. Tepat setelah aku berpikir soal itu, dia kembali mengirimi aku pesan "Mau ketemu dimana? Atau mau aku jemput? Atau takut? Haha". Dia benar benar menjawab pertanyaanku yang bahkan tak aku utarakan. Singkat cerita, aku dijemput lalu kami pergi. Jalanan macet, seperti biasa. Kami banyak mengobrol di perjalanan. Ternyata kami terlambat, setelah 10 menit film diputar, kami baru menemukan tempat untuk parkir haha. Lalu kami bergegas masuk ke studio dan mulai menonton, beruntung kami masih bisa mengikuti cerita filmnya walaupun terlambat.
Selesai menonton, kami memutuskan untuk makan. Waktu itu rasanya memilih tempat makan yang mana saja yang kami lewati, karena memang masih secanggung itu untuk sekadar berdiskusi tentang tempat makan mana yang kami akan datangi. Selesai memesan makanan, sambil menunggu, kami berbagi banyak hal. Saat itu rasanya kami sedang berbagi perjalanan hidup. Dia yang sudah lulus kuliah beberapa tahun lalu dan sudah mencoba bekerja ke berbagai kota, katanya, sampai akhirnya 3 tahun terakhir ini menetap bekerja di kota ini. Dan aku yang masih kebingungan dengan skripsiku saat itu.
Dia baik. Dia punya sesuatu yang menarik. Dia senang sekali tersenyum saat berbicara. Aku senang memperhatikan ia bercerita. Dia lembut sekali. Dia menghargai aku dan sangat menjaga. Dia memperlakukan aku dengan baik. Setidaknya itu kesan pertamaku saat bertemu dengan dia.
Lalu diantarnya aku pulang. Ternyata semakin larut jalanan semakin macet. Dia bertanya "Kamu kenapa mau diajak jalan sama aku, orang asing?", aku tak terima jika sampai ia berpikir bahwa aku selalu semudah itu diajak untuk bertemu, karena itu petama kalinya aku bertemu dengan orang baru yang benar-benar baru aku kenal beberapa hari. Tapi akupun tak punya alasan mengapa aku mau. Aku menjawab apa adanya, aku jelaskan aku tak biasanya seperti itu dan akupun tak mengerti mengapa aku bisa mengiyakan ajakan dia. Lalu dia juga bertanya tentang hubungan terakhir yang aku punya. Kebetulan hubungan terakhirku itu hal yang takkan habis diceritakan karena memang serumit itu. Akhirnya kami mengisi waktu di tengah kemacetan itu dengan aku bercerita tentang hubungan rumitku itu dan dia dengan seksamanya mendengarkan, dia dengan excitednya mendengarkan. Mungkin itu pertama kalinya aku merasakan benar-benar didengarkan. Aku bahkan tak menyangka dia benar-benar ingin tau tentangku.
Akhirnya sampailah kami di dekat kost-ku pada saat itu. Perpisahan malam itu, perpisahan tercanggung dan terkaku yang pernah aku alami haha. Bukannya hal wajar ya aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman? Tapi ia tak menyambutnya dengan bagaimana semestinya bersalaman. Kikuk sekali dan jika diingat sekarang, aku sangat malu dengan kejadian itu. Selama aku berjalan menuju kamarku aku terus berpikir "Pokoknya aku gamau lagi ajak dia salaman sampe dia yang minta duluan", tapi aku juga lalu berpikir "Setelah ini, apa akan ada pertemuan lainnya?".
Selesai menonton, kami memutuskan untuk makan. Waktu itu rasanya memilih tempat makan yang mana saja yang kami lewati, karena memang masih secanggung itu untuk sekadar berdiskusi tentang tempat makan mana yang kami akan datangi. Selesai memesan makanan, sambil menunggu, kami berbagi banyak hal. Saat itu rasanya kami sedang berbagi perjalanan hidup. Dia yang sudah lulus kuliah beberapa tahun lalu dan sudah mencoba bekerja ke berbagai kota, katanya, sampai akhirnya 3 tahun terakhir ini menetap bekerja di kota ini. Dan aku yang masih kebingungan dengan skripsiku saat itu.
Dia baik. Dia punya sesuatu yang menarik. Dia senang sekali tersenyum saat berbicara. Aku senang memperhatikan ia bercerita. Dia lembut sekali. Dia menghargai aku dan sangat menjaga. Dia memperlakukan aku dengan baik. Setidaknya itu kesan pertamaku saat bertemu dengan dia.
Lalu diantarnya aku pulang. Ternyata semakin larut jalanan semakin macet. Dia bertanya "Kamu kenapa mau diajak jalan sama aku, orang asing?", aku tak terima jika sampai ia berpikir bahwa aku selalu semudah itu diajak untuk bertemu, karena itu petama kalinya aku bertemu dengan orang baru yang benar-benar baru aku kenal beberapa hari. Tapi akupun tak punya alasan mengapa aku mau. Aku menjawab apa adanya, aku jelaskan aku tak biasanya seperti itu dan akupun tak mengerti mengapa aku bisa mengiyakan ajakan dia. Lalu dia juga bertanya tentang hubungan terakhir yang aku punya. Kebetulan hubungan terakhirku itu hal yang takkan habis diceritakan karena memang serumit itu. Akhirnya kami mengisi waktu di tengah kemacetan itu dengan aku bercerita tentang hubungan rumitku itu dan dia dengan seksamanya mendengarkan, dia dengan excitednya mendengarkan. Mungkin itu pertama kalinya aku merasakan benar-benar didengarkan. Aku bahkan tak menyangka dia benar-benar ingin tau tentangku.
Akhirnya sampailah kami di dekat kost-ku pada saat itu. Perpisahan malam itu, perpisahan tercanggung dan terkaku yang pernah aku alami haha. Bukannya hal wajar ya aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman? Tapi ia tak menyambutnya dengan bagaimana semestinya bersalaman. Kikuk sekali dan jika diingat sekarang, aku sangat malu dengan kejadian itu. Selama aku berjalan menuju kamarku aku terus berpikir "Pokoknya aku gamau lagi ajak dia salaman sampe dia yang minta duluan", tapi aku juga lalu berpikir "Setelah ini, apa akan ada pertemuan lainnya?".
-Irma Ruby Ardelia-
Aku mulai menulis ini pada awal bulan Agustus 2019,
tapi baru aku publish sekarang hehe.
And I will continue writing the story.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar