Kamis, 09 Januari 2020

Dia baik.

Pertemuan pertama itu....menyenangkan. Setidaknya aku mendapat kesan yang baik di pertemuan pertama itu. Malam itu ketika aku akhirnya sampai di kamar kost-ku, aku mulai sedikit khawatir. "Dia akan menghubungiku lagi tidak ya?", "Akankah ada pertemuan lainnya setelah ini?", "Akankah ia tetap bersikap sama padaku?", "Haruskah kuhubungi duluan?" dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Aku pikir, karena dia sudah mengantarku pulang, bukankah wajar jika kukirimi ia pesan hanya untuk memastikan apa dia sudah sampai rumah dengan selamat atau belum. Selebihnya, setelah itu, jika memang ia tak menghubungiku lagi, ya...sudah. 

Hanya aku atau kalian juga merasakan hal yang sama saat kalian sudah bertemu seseorang untuk pertama kalinya? Karena menurutku, saat berkenalan lewat media sosial, pertemuan pertama adalah moment yang penting. Kesan pertama adalah hal yang penting. Menurutku, pertemuan pertama juga merupakan moment untuk memastikan apakah orang yang kita kenal itu memang sesuai dengan yang kita harapkan, apakah orang itu terlihat sama dengan yang terlihat di photo profile line-nya, apakah kita akan merasa cocok dengannya seperti kita merasa cocok dengan dia saat berbincang melalui whatsapp, apakah mata kita merasa cocok melihat dia secara langsung seperti mata kita merasa cocok dengan melihat dia melalui foto-foto instargam-nya? Bukankah itu inti dari pertemuan pertama?

Aku...bukan orang yang sepercaya diri itu untuk sekadar memuji diriku sendiri kalau aku ini cantik. Aku juga bukan orang yang merasa bahwa aku lebih baik dari siapapun. Pertemuan pertama adalah hal yang selalu membuatku takut. Menurutku, pertemuan pertama itu akan menentukan apakah kedua manusia itu akan tetap saling mengabari atau tidak. Oleh karena itu, aku tak pernah mau secepat itu untuk bertemu saat aku berkenalan dengan seseorang melalui media sosial. Karena jika hanya beberapa hari mengenal lalu langsung bertemu, bukankah tujuan dari pertemuan itu hanya untuk saling menilai physically? Makanya aku tak pernah ingin untuk bertemu secepat itu. Aku lebih suka untuk saling mengenal terlebih dahulu, setidaknya 3 minggu atau mungkin satu bulan. Melalui chatting atau mungkin melalui telepon. Kalau memang niat dari perkenalan itu baik, hal itu tidak akan menjadi masalah, bukan?

Menurutku, jika setidaknya dua manusia sudah saling mengenal lebih jauh terlebih dahulu dengan saling berbagi tentang kisah hidup, berbagi hal yang disukai ataupun tidak, saling mengenal lebih sifat dan karakter satu sama lain, saling berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari dan berbagi hal lainnya. Bukankah itu akan lebih meyakinkan kedua manusia itu apakah memang saling merasa cocok satu sama lain atau tidak? Sehingga, saat pertemuan pertama itu terjadi, penilaian utama bukan lagi hanya soal fisik. Waktu yang sudah dilewati untuk saling berkabar, kecocokan satu sama lain dalam berbagi tentang kehidupan, kenyamanan yang dirasakan melalui cara satu sama lain memberikan perhatian, keterbiasaan untuk saling berkabar dan hal lainnya yang tentu akan menjadi pertimbangan untuk melanjutkan hubungan itu atau tidak, bukan? Akan sangat berbeda dengan pertemuan pertama yang terkesan terburu-buru. Itu menurutku, ya.

Makanya pertemuan pertamaku di akhir bulan Juni 2019 itu agak membuatku khawatir. Karena itu pertama kalinya aku mau menemui seseorang yang baru kukenal beberapa hari dan sampai sekarang aku juga tak menemukan alasannya. Aku saat itu hanya merasa tidak bisa menolak dan memang ingin bertemu. Lalu terjadilah pertemuan pertama itu dengan segala kekakuan yang ada di dalamnya haha.

Malam itu aku akhirnya memutuskan untuk mengirimi dia pesan "kamu sudah sampai rumah?", beberapa menit kemudian pesanku mendapat balasan, dia mengabari bahwa ia sudah sampai rumah. Dia juga bercerita tentang apa yang terjadi saat ia dalam perjalanan pulang. Aku...tak menyangka. Bukankah itu respon yang baik? Dia masih bercerita, tidak hanya sekadar mengabari. Tapi aku masih berpikir "Ah..mungkin karena baru saja bertemu, jadi mungkin masih menghargai saja". Malam itu, setelah pertemuan pertama, kami masih menyempatkan chatting  meskipun sudah larut. Sampai akhirnya salah satu dari kami berhenti membalas karena tertidur. Keesokan harinya, aku masih saja khawatir sampai akhirnya handphone-ku berbunyi. "Pagiiiii" dan beberapa pesan lainnya menyusul datang. Senang? Senang tentu. Tapi khawatir itupun masih saja ada.

"Apa sih yang membuatmu khawatir? Bukannya tinggal disudahi saja jika ia memang tak mengabari lagi? Toh kalian baru beberapa hari mengenal satu sama lain." Itu juga akan menjadi pertanyaanku jika aku berada dalam posisi teman-teman sebagai pembaca (jika ada hehe). Aku akan jawab ya. Sebetulnya dan sejujurnya, yang membuat aku khawatir dia takkan menghubungiku lagi itu karena dia baik. Itu saja. Pertemuan pertama itu benar-benar memberikanku kesan yang baik tentang dia. Sekarang...sepertinya sulit untuk menemukan seseorang seperti dia lagi. Dia memperlakukanku dengan baik, dia bercerita dengan raut wajah yang menyenangkan, dia juga mendengarkan ceritaku dengan seksamanya, aku merasa sangat dihargai olehnya. Satu hal lagi yang membuatku kagum, yaitu bagaimana cara dia berpikir. Saat mendapatkan kesulitan, dia tak menyalahkan keadaan, dia hanya berpikir kalau kesulitan yang ia dapatkan disebabkan oleh kesalahan yang ia perbuat di masa lalu. Ia lebih memilih untuk mengintrospeksi diri daripada menyalahkan keadaan. Aku sangat suka hal itu darinya. Hal-hal itulah yang membuatku khawatir ia akan hilang. Aku juga sebelumnya tak pernah sekalipun secepat ini merasa yakin dengan seseorang yang baru kukenal. Tapi, tak tau mengapa, aku merasa...he's just different.

Tak disangka-sangka ternyata komunikasi diantara kami terus berlanjut, meskipun aku masih bertanya-tanya tentang akankah ada pertemuan kami yang selanjutnya. Kami masih terus saling berbagi soal kehidupan satu sama lain, hobi ataupun hal-hal yang kami sukai. Melalui obrolan itu ternyata membawa kami untuk merencanakan pertemuan selanjutnya di hari yang sama seperti pertemuan pertama kami, hari Sabtu. Kami melewati hari demi hari dengan tetap saling mengabari dan tetap bercerita tentang apa yang kami lewati setiap harinya. Dia dengan pekerjaannya yang menuntut ia untuk pergi ke berbagai kota setiap harinya dan aku dengan segala kerumitan pengerjaan skripsiku saat itu. Rasanya ingin segera hari Sabtu saja.

Hari demi hari akhirnya terlewati, aku makin kebingungan tentang pakaian apa yang harus kukenakan hari Sabtu besok. Wanita haha. Waktu itu kami merencanakan untuk pergi ke kebun binatang, dia ingin memenuhi keinginanku untuk pergi ke sana. Konyol memang. Tapi jangan tanya mengapa, aku hanya sangat ingin ke sana selama aku kuliah dan tinggal di kota ini. Tapi tak pernah ada yang mau menemani. Wajar.

Lalu hari Sabtu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Tapi sayang, dia ternyata ada keperluan di pagi hari. Sehingga rencana ke kebun binatang sejak pagi hari tak bisa kami lakukan. Tapi dia tetap mengajakku bertemu, itu saja sudah membuatku senang. Dia mengajakku menonton film (lagi). Ia ternyata sangat senang menonton film dan aku juga pastinya sangat senang bisa menemani dia menonton. Kami pun kembali berada dalam perjalanan, berdua, dia juga kembali menjemputku. Kami kembali berbagi tentang banyak hal saat berada dalam perjalanan. Tapi kali ini kami tidak terlambat lagi, kami sampai sebelum film dimulai. Sama seperti sebelumnya, kami juga pergi makan malam setelah menonton. Tapi kali ini, kami tidak makan di restoran yang ada di mall yang kami kunjungi. Kami ke tempat makan yang ada di tempat lain. Rasanya senang sekali setiap kami mengobrol di perjalanan. Aku sangat menikmati setiap perjalanan yang kami lewati. Jika kamu membaca ini, maaf ya, tapi aku senang sekali saat jalanan macet dan ramai. Karena itu membuat perjalanan terasa lebih lama. Memang, kami tak setiap saat mengobrol, ada saatnya kami terdiam dan hanya menikmati suasana pada saat itu. Tapi sungguh, aku menikmati setiap detik yang kami lewati. Aku menikmati saat kami mendengarkan musik yang ia putar di dalam mobil, mendengarkan dia yang ikut bernyanyi, menikmati kemacetan dan melihat lampu-lampu yang menerangi sepanjang jalan yang kami lewati. Itu moment yang paling aku sukai dalam setiap pertemuan kami.

Dia pun masih sama. Masih dengan senyumnya yang tak pernah lepas dari wajahnya setiap bercerita. Masih dengan dia yang mendengarkan setiap ceritaku dengan baik. Masih dengan dia yang membuatku merasa sangat dihargai dan dijaga. Masih dengan dia yang sama seperti pertama bertemu.

Setelah itu, kami masih terus bertemu setiap hari Sabtu. Kalau kata salah satu temanku "kegiatan rutin di hari Sabtu" katanya. Minggu keempat, yang berarti perkenalan kami yang ke satu bulan, kami tak bertemu. Bukan karena tidak bisa. Saat itu dia tak merencanakan pertemuan seperti minggu minggu sebelumnya. Aku tentu sangat ingin bertemu. Aku bercerita padanya kalau aku satu hari ini hanya berdiam diri di kamar dan kebanyakan temanku tidak bisa menemaniku pergi pada saat itu. Lalu dia bertanya "ngga ngajak aku?". Aku cukup tersentak dengan pertanyaan itu. Aku baru menyadari bahwa selama ini aku hanya menunggu dia mengajakku untuk bertemu. Aku sama sekali tak pernah mengajaknya duluan. Aku juga tersadar bahwa dalam suatu hubungan itu tidak hanya soal diberi tapi juga memberi. Bukan menunggu diajak saja tapi juga mengajak.

Minggu selanjutnya kami bertemu kembali, seterusnya seperti itu bahkan sampai sekarang aku menulis ini, Januari 2020. Kami semakin dekat. Kami saling bertemu dengan keluarga satu sama lain, meskipun aku baru sekali diajaknya untuk bertemu keluarganya. Sedangkan dia sering menjemput atau mengantarku pulang dan bertemu Papaku, karena sekarang aku tinggal bersama Papa di kota ini. Banyak hal yang kami lewati. Akan kuceritakan hal-hal yang menurutku menarik untuk diceritakan nanti, ya. Meskipun tak bisa dipungkiri jika perubahan itu akan selalu ada dalam suatu hubungan. Perubahan seperti apa? Nanti yaa kuceritakan hehe. Yang terpenting, perubahan itu tak mengurangi rasa senangku.




-Irma Ruby Ardelia-

Rabu, 08 Januari 2020

Akankah ada pertemuan lainnya?

Dia baik sekali. Seseorang ini baru saja kukenal satu bulan lebih beberapa hari. Dia...mengapa begitu baik padaku? Aku sejujurnya sangat takut jika lagi lagi dia adalah hanya salah satu orang yang datang sekadar untuk singgah. Bukan untuk seterusnya menetap. Benar benar takut rasanya, karena sepertinya rasa nyaman itu sudah mulai hadir kembali. Aku tak begitu suka tentang hal itu, karena bisa saja, bahkan sangat memungkinkan, rasa nyaman itu hanya akan menjadi hal yang menyakitkan pada akhirnya. Aku benar benar lelah membayangkan jika aku harus melewati fase-fase itu lagi, fase-fase yang sudah berulang kali aku lewati. Mengapa semua lelaki seperti itu? Buktikan padaku jika memang benar tidak semua lelaki itu sama. 

Tapi tak tau mengapa, aku rasanya begitu yakin dengan sosok baru ini. Aku, sejujurnya, bukan orang yang mudah percaya pada orang baru apalagi setelah aku melewati banyak hal sebelumnya. Aku juga bukan orang yang mudah mengiyakan ajakan orang baru untuk sekadar pergi berjalan-jalan, setidaknya butuh 3 minggu atau satu bulan bahkan lebih untukku sampai aku mau untuk bertemu dengan orang baru yang kukenal lewat media sosial. Namun kali ini berbeda. Aku merasakan hal yang berbeda. 

Saat itu baru saja beberapa hari aku mengenal orang ini, kurang dari satu minggu. Entahlah bagaimana ceritanya sampai kami mulai intens chatting dan terbiasa mengabari satu sama lain, sampai berbagi cerita tentang kehidupan. Aku belum banyak tau tentangnya pada saat itu, bahkan umurnya pun aku tak tau. Sampai akhirnya dia mengajakku bertemu dan aku bahkan sampai sekarang tak pernah mendapatkan jawabannya mengapa aku mengiyakan ajakan itu. Ajakan dari seseorang yang baru kukenal beberapa hari. Rasanya aku tak ingin menolak, entahlah bagaimana aku harus menjelaskan perasaan ini, tapi aku benar benar tak ingin menolak. Padahal, jujur saja, hari itu bukan hanya orang ini yang mengajakku untuk bertemu, bahkan ada orang lain yang sudah chatting denganku lebih lama juga mengajakku bertemu. Tapi rasanya berbeda, aku merasa takut dan tak sedikitpun ingin mengiyakan ajakan orang itu.

Gugup? Iya. Takut? Tentu. Bahkan saat hari dimana kita akan bertemu, aku masih saja mencari cara untuk membatalkan pertemuan itu. Waktu itu dia mengajakku menonton film Toy Story. Paginya di hari itu dia menanyakan "hari ini jadi nonton?", aku tak menjawab dengan pasti karena aku sebenarnya ingin mengulur waktu. Aku malah menanyakan kembali hal yang sama "mau jadi nih?", biasanya jika aku membalas seperti itu, orang akan merespon dengan kembali mempertanyakan sampai akhirnya tak jelas. Namun, dia tidak. Dia membalas "hayuuuu, mau jam berapa?" beserta screenshot jadwal tayang film Toy Story yang membuatku benar benar kehabisan ide untuk mengulur-ulur waktu lagi. Akhirnya kuserahkan semuanya pada dia dalam hal memilih jadwal ataupun tempat. 

Setelah selesai persoalan tentang tiket, aku kembali berpikir "aku berangkat gimana nih? Kalau mau dijemput gimana bilangnya ya? Atau ketemu di tempat aja ya?", tapi ternyata aku tak perlu repot repot berpikir tentang hal hal seperti itu. Tepat setelah aku berpikir soal itu, dia kembali mengirimi aku pesan "Mau ketemu dimana? Atau mau aku jemput? Atau takut? Haha". Dia benar benar menjawab pertanyaanku yang bahkan tak aku utarakan. Singkat cerita, aku dijemput lalu kami pergi. Jalanan macet, seperti biasa. Kami banyak mengobrol di perjalanan. Ternyata kami terlambat, setelah 10 menit film diputar, kami baru menemukan tempat untuk parkir haha. Lalu kami bergegas masuk ke studio dan mulai menonton, beruntung kami masih bisa mengikuti cerita filmnya walaupun terlambat.

Selesai menonton, kami memutuskan untuk makan. Waktu itu rasanya memilih tempat makan yang mana saja yang kami lewati, karena memang masih secanggung itu untuk sekadar berdiskusi tentang tempat makan mana yang kami akan datangi. Selesai memesan makanan, sambil menunggu, kami berbagi banyak hal. Saat itu rasanya kami sedang berbagi perjalanan hidup. Dia yang sudah lulus kuliah beberapa tahun lalu dan sudah mencoba bekerja ke berbagai kota, katanya, sampai akhirnya 3 tahun terakhir ini menetap bekerja di kota ini. Dan aku yang masih kebingungan dengan skripsiku saat itu.

Dia baik. Dia punya sesuatu yang menarik. Dia senang sekali tersenyum saat berbicara. Aku senang memperhatikan ia bercerita. Dia lembut sekali. Dia menghargai aku dan sangat menjaga. Dia memperlakukan aku dengan baik. Setidaknya itu kesan pertamaku saat bertemu dengan dia.

Lalu diantarnya aku pulang. Ternyata semakin larut jalanan semakin macet. Dia bertanya "Kamu kenapa mau diajak jalan sama aku, orang asing?", aku tak terima jika sampai ia berpikir bahwa aku selalu semudah itu diajak untuk bertemu, karena itu petama kalinya aku bertemu dengan orang baru yang benar-benar baru aku kenal beberapa hari. Tapi akupun tak punya alasan mengapa aku mau. Aku menjawab apa adanya, aku jelaskan aku tak biasanya seperti itu dan akupun tak mengerti mengapa aku bisa mengiyakan ajakan dia. Lalu dia juga bertanya tentang hubungan terakhir yang aku punya. Kebetulan hubungan terakhirku itu hal yang takkan habis diceritakan karena memang serumit itu. Akhirnya kami mengisi waktu di tengah kemacetan itu dengan aku bercerita tentang hubungan rumitku itu dan dia dengan seksamanya mendengarkan, dia dengan excitednya mendengarkan. Mungkin itu pertama kalinya aku merasakan benar-benar didengarkan. Aku bahkan tak menyangka dia benar-benar ingin tau tentangku.

Akhirnya sampailah kami di dekat kost-ku pada saat itu. Perpisahan malam itu, perpisahan tercanggung dan terkaku yang pernah aku alami haha. Bukannya hal wajar ya aku mengulurkan tanganku untuk bersalaman? Tapi ia tak menyambutnya dengan bagaimana semestinya bersalaman. Kikuk sekali dan jika diingat sekarang, aku sangat malu dengan kejadian itu. Selama aku berjalan menuju kamarku aku terus berpikir "Pokoknya aku gamau lagi ajak dia salaman sampe dia yang minta duluan", tapi aku juga lalu berpikir "Setelah ini, apa akan ada pertemuan lainnya?".





-Irma Ruby Ardelia-



Aku mulai menulis ini pada awal bulan Agustus 2019,
tapi baru aku publish sekarang hehe.
And I will continue writing the story.