Senin, 14 Januari 2019

Kamu si Kenangan Manis


Selamat pagi untukmu yang jauh di sana. Untukmu yang tiba-tiba aku rindu. Kamu yang tak pernah menyakiti. Kamu yang tak pernah berubah saat itu. Kamu yang benar-benar menjaga dan merawat hatiku sampai akhirnya mungkin kau rasa bukan aku, lalu kau kembalikan hatiku dengan baik baik juga. Sungguh, kamu satu-satunya yang seperti itu sejauh ini.

Aku rindu. Rindu segala hal tentangmu. Tak apa kan? Aku rindu diperlakukan sebaik kamu memperlakukan aku saat itu. Kamu konsisten, tak pernah berubah hingga akhir. Kamu satu-satunya orang yang pernah singgah tanpa meninggalkan kenangan buruk. Setiap mengingatmu perasaanku senang saja, tak ada sesak sama sekali. Terima kasih untuk menjadi seseorang yang sangat baik.

"Kamu hati hati ma"
"Ma mau pergi kemana? Vcall dulu sebentar ya?"
"Kamu ga nyari dokar (donat bakar) ma? Wkwk"
"Kamu sakit ga bilang bilang, males aku"
"Ma aku pusing :("
"Disuruh main ke rumah tuh sama mama"
"Aku ke bandung ma besok"
"Aku mau jual hp ma, kita smsan dulu gapapa ya?"
"Ciee nungguin, udah sana bobo ma"
Tiba-tiba saja teringat percakapan-percakapan denganmu. Sebenarnya tak ada yang spesial, ya kan? Percakapan kita sederhana sekali. Kau tak pernah sekalipun memberi harapan padaku. Kita mengalir saja saat itu. Mungkin karena itu, aku tak merasa sakit, kau tak memberi harapan apapun. Kau lakukan apapun yang kau bisa saat itu tanpa mengatakan apa-apa sebelumnya. Kau tak pernah menjanjikan apapun. Sehingga akupun tak pernah mengharapkan apapun. Aku senang saat bersamamu, itu saja. Bahkan hingga akhirnya kau memutuskan untuk berhenti, kita tak pernah ribut sama sekali ya, hampir satu tahun itu? Hebat ya kita.

Terima kasih untuk menjadi seseorang yang bertanggung jawab dan konsisten. Kau datang membuatku nyaman dan selalu menunggu-nunggu kabarmu. Tapi tak pernah sekalipun aku menunggu dengan rasa khawatir, karena kau pasti selalu mengabari. Kau sadar bahwa kau sudah mengambil hatiku dan membuatku terbiasa akan hadirmu. Aku senang bahwa keberadaanmu konsisten sejak awal kau datang sampai akhirnya pergi. Kau jaga dan kau rawat hatiku dengan baik. Hingga akhirnya kau memutuskan untuk mengembalikan hatiku. Bohong jika aku bilang perginya kamu itu tak membuatku sulit. Tapi sungguh, kamu benar-benar tak melukai. Kau kembalikan hatiku dengan keadaan yang baik. Terima kasih. Kau kenangan manis.

Aku sebenarnya ingin bercerita sedikit mengapa aku tiba-tiba rindu padamu. Aku rindu karena aku teringat perlakuan baikmu dulu. Sekarang hatiku ini digenggam oleh seseorang yang hatinya aku bahkan tak tau untuk siapa. Seseorang ini berbeda dengan kamu. Kamu yang sederhana dan dia yang rumit. Dia manis sekali dulu, sangat manis. Setiap kali dia berbicara, selalu ada harapan di sana. Aku dibuat terbang oleh harapan-harapannya itu ditambah dengan perlakukan dia yang sangat manis saat itu sehingga aku benar-benar merasa diinginkan. Merasa diinginkan itu perasaan yang sangat menyenangan bukan?

Namun seperti yang aku bilang, dia berbeda denganmu. Dia sekarang telah berubah, tak konsisten sampai akhir sepertimu. Aku sulit sekali mengambil hatiku yang ia genggam. Dia bukan dia yang aku kenal dulu, tapi aku sulit sekali untuk mengendalikan hatiku. Aku benar-benar sudah jatuh untuknya. Aku seperti ia tahan agar tak pergi, namun ia juga tak menunjukkan lagi kepeduliannya terhadapku. Aku sedang menjalani semuanya sendiri sekarang. Sakit dan lelah sekali rasanya. 

Dia mungkin menganggap aku tak tau apa-apa. Padahal aku tau segala hal yang ia lakukan di belakangku. Aku tau semuanya. Dia mungkin menganggapku bodoh. Tapi, aku bodoh memang, karena aku tetap bertahan setelah aku tau semuanya yang terjadi di belakangku. Dia banyak berbohong. Dia terus menutupi satu kebohongan dengan kebohongan lainnya. Dia terkadang lupa dengan apa yang pernah ia katakan padaku dulu, sehingga sekarang mudah sekali untuk tau saat dia berbohong.

Dia bilang dia akan menjaga kepercayaanku. Tapi sepertinya dia salah mengartikan apa itu "menjaga kepercayaan". Dia tetap berbohong sampai sekarang, dia masih saja pergi dengan yang lain. Bedanya, dia sekarang sedang berusaha menutupi semuanya dengan rapat. Dia sedang berusaha untuk mengendalikan wanitanya yang lain itu untuk menyembunyikan diri seperti yang ia pernah minta padaku dulu. Itu yang ia maksud dengan "menjaga kepercayaan"? Tetap berbohong namun berusaha agar aku tak tau. Hati dan pikiran dia itu dimana ya? Jahat dan licik sekali. Tak sadarkah dia kalau dia mematahkan banyak hati? Tak takutkah dia? Entahlah, mungkin dia tak berpikir sampai sejauh itu. Yang ia pikirkan hanya bagaimana ia bisa keluar dari masalah yang ia hadapi sekarang, apapun itu caranya, termasuk dengan terus berbohong. Ia tak berpikir jauh ke depan. 

Tapi setidaknya aku senang bahwa masih ada lelaki sepertimu yang tak menyakiti dengan harapan-harapan palsu. Beruntung sekali wanita yang memiliki kamu kelak. Tetap menjadi kamu yang aku dulu kenal ya. Kita sudah tak pernah berkomunikasi, mungkin hanya sesekali saat kau menonton siaran langsungku di instagram.
"Tiap live lagi makan mulu"
"Makan yang banyak ma, karena pura pura bahagia itu butuh tenaga" katamu.
Terima kasih ya.

Rabu, 09 Januari 2019

Aku (berhenti) menunggu.

Tersiksa.
Aku benci diriku yang seperti ini. Aku benci ketika aku lebih mengikuti hatiku daripada logikaku ataupun mataku yang jelas jelas melihat. Kenapa rasanya sulit sekali untuk melepaskan? Kenapa setiap aku mencoba melupakan malah kamu semakin kuat di ingatan? Hatiku sakit...sangat sakit setiap aku mengingatmu, mengingat apa yang telah aku lihat, mengingat semua hal yang kamu katakan dan mengingat sikapmu yang jelas jauh berbeda sekarang. Aku tau selalu ada kebohongan setiap kamu berbicara, aku bahkan tau kamu sedang berbohong. Tapi kenapa aku, diriku ini, tak bisa menyangkal kata-katamu dan selalu memaksa diri untuk percaya? Aku benci diriku yang seperti ini.

Aku sayang, sungguh. Kamu yang membuatku seperti ini. Kamu yang datang dengan sangat meyakinkan saat itu. Kamu yang selalu bersikap hangat saat itu. Kamu yang selalu membuatku merasa dianggap "ada" saat itu. Kamu yang membuatku sangat senang saat pertama kali kau bilang sayang padaku. Kamu yang selalu membuatku merasa diinginkan saat itu. Kamu yang selalu membuatku merasa kalau kehadiranku kau tunggu-tunggu saat itu. Kamu terlihat sungguh. Kamu terlihat meyakinkan. Kupikir kamu nyata. Kupikir kamu berbeda.

Kamu orang pertama yang membuatku bisa sesayang ini. Kamu orang pertama yang membuatku selalu ingin melakukan segala hal untukmu. Kamu orang pertama yang membuatku lebih memikirkan dirimu daripada diriku sendiri. Kamu orang pertama yang membuatku banyak berpikir. Kamu orang pertama yang bisa membuatku yakin dan berani untuk membiarkanmu datang mengunjungi rumahku dan bertemu keluargaku. Kamu yang pertama. Kamu orang pertama yang aku pertahankan sampai begini.

Kamu tau? Aku tak pernah sesayang ini pada seorang laki-laki sebelumnya. Aku juga tak pernah dibuat sebahagia ini sebelumnya. Tapi kamu juga harus tau, kamu juga orang pertama yang membuatku sepatah ini. Kamu juga orang pertama yang membuatku merasa sesakit dan setersiksa ini. Kamu juga orang pertama yang membuatku tak peduli dengan rasa sakitku hanya untuk mempertahankanmu. Kamu juga orang pertama yang membuatku rela melakukan banyak hal tanpa memikirkan diriku sendiri.

Kulakukan semua yang aku bisa untukmu. Kuberikan semua yang aku punya untukmu. Tak peduli seberapa sering kamu berbohong, seberapa banyak kamu menyakiti, sesakit apa yang aku rasa, saat kau datang membutuhkanku, aku benar-benar tak bisa tak peduli padamu. Aku benar-benar dibuat berpikir olehmu dan segala yang aku lakukan saat itu benar-benar aku lakukan karena kamu. 

Mungkin apa yang aku lakukan tidak sebesar yang orang lain lakukan. Mungkin yang aku berikan tidak sebanyak yang kamu butuhkan atau sebanyak yang orang lain berikan. Tapi sungguh, aku berikan semua yang aku punya. Semua. Aku bahkan tak memikirkan diri sendiri. Aku benar-benar berikan semua yang aku punya dan melakukan segala hal yang aku mampu.

Bukan membangga-banggakan diri sendiri, bukannya aku merasa telah sangat berpengaruh di hidupmu, tapi setelah semua yang aku berikan dan aku lakukan untukmu, apa ini balasannya? Perubahan sikapmu, kehangatanmu yang berganti sangat dingin, ketidakpedulianmu terhadapku. Apakah itu balasannya? Kamu terus bilang kalau hubungan kita masih sama seperti dulu, seperti janji kita di awal dulu. Sulit sekali rasanya untuk percaya kata-katamu itu karena jelas kamu jauh berbeda.

Dua bulan terakhir ini aku semakin tak tau apa-apa tentangmu karena kamu sudah tak mengabari seperti dulu, kamupun tak terlihat tertarik untuk tau kehidupanku bagaimana. Kita seperti sudah berjalan di jalur yang berbeda. Kamu dengan duniamu yang tak ada diriku di sana dan aku dengan duniaku yang kehilangan hadirmu. Kenapa bisa-bisanya dengan telihat sungguh kamu terus meyakinkan kita dan kamu terhadapku masih sama seperti dulu? 

Kamu tau? Aku tau semuanya. Aku tau aku bukan satu-satunya, sedikitpun aku tak pernah berpikir menjadi satu-satunya. Aku tau setiap kamu pergi dengan yang lain, seseorang yang katanya baru kau kenal itu. Sungguh. Aku tau tanpa kau beritahu. Aku juga tau bagaimana kamu dengan dia, seseorang dari masa lalumu itu. Bukan hanya kedua orang itu, yang lainnya pun aku tau. Aku memperhatikan semuanya. Semuanya. Aku memperhatikan bahkan hal hal kecil yang takkan kamu sangka. 

Ceritamu semalam tentang wanita yang katanya baru kamu kenal itu, aku sudah tau. Setiap kata yang kamu katakan tentangnya tadi malam, aku sebenarnya sudah tau. Selama apa kalian kenalpun, aku sudah tau. Kecewa sekali rasanya kamu menjawabku dengan kebohongan, berulang kali aku tanya, tetap kau memilih untuk berbohong. 

Aku mengerti posisiku. Aku somehow mengerti jalan pikiranmu seperti apa. Tapi sungguh, jika memang tak ada lagi aku di hatimu, katakan saja. Jangan memaksakan diri. Aku juga sama sepertimu, aku takkan memaksakan hati atau perasaan orang. Aku mengerti banyak orang di luar sana yang jauh lebih baik dariku, kamu pasti bertemu banyak orang di luar sana dan tak menutup kemungkinan jika kamu akan menemukan yang mungkin membuatmu lebih senang. 

Aku benar-benar tak punya alasan untuk aku berikan padamu untuk membuatmu lebih memilih aku daripada orang lain, karena tak pernah sedikitpun aku merasa lebih baik daripada orang lain, siapapun itu. Tapi suatu saat nanti jika ternyata benar kamu memutuskan untuk pergi dan memilih yang lain, itu akan membuatku sadar dan yakin bahwa kamu memang tak pernah sungguh denganku.

Aku memilihmu saat aku sadar di luar sana pasti banyak yang jauh lebih baik darimu. Aku tetap mempertahankamu dengan tak sedikitpun berpikir untuk mencari yang lain dengan alasan mencari yang lebih baik. Karena menurutku, mencari yang terbaik itu takkan bisa, akan selalu ada yang lebih baik bahkan dari yang terbaik. Saat dirasa sudah menemukan, berhentilah mencari, semuanya hanya tentang bagaimana cara untuk kita konsisten dengan pilihan kita dan berusaha menjadi yang terbaik bagi satu sama lain. Bukan begitu?

Tapi bagimana denganmu, aku tak tau. Bagaimana menurutmu, aku tak tau. Jika aku ditawari satu kemampuan, aku ingin punya kemampuan untuk bisa tau isi hatimu. Karena kamu terlihat sulit sekali untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Aku ingin tau siapa yang ada di hatimu sebenarnya, agar aku yakin harus bersikap seperti apa.

Aku sudah bilang kan? Aku tak bisa jika harus melepaskanmu. Aku tak sanggup. Kecuali kamu yang melepaskanku. Kecuali kamu katakan bahwa kamu tak lagi ingin denganku. Detik itu juga aku akan pergi dan berhenti. Tapi kamu tak begitu, semalam kamu terlihat yakin. Kamu terus mengatakan kamu terhadapku masih sama seperti dulu. Lalu bagaimana bisa aku melepaskan?

Sekarang aku akan mencoba untuk tak banyak berpikir dan mencoba untuk berhenti mencari tau hal hal yang akan menyakiti diriku sendiri. Aku tak mau tau bagaimana di luar sana, aku hanya akan berpegang pada kata-katamu semalam. Aku juga harap kamu cepat menyelesaikan semua yang harus kau selesaikan dengan wanita itu lalu segera pergi meninggalkan, seperti yang kamu bilang. Aku juga akan menahan diri semampuku seperti yang kamu minta.

Jangan tanya mengapa aku sekeras kepala ini. Kamu yang membuatku begini.

Untukmu...
Aku iri dengan dia yang selalu kau ajak senang. Aku kapan?
Aku iri dengan dia yang selalu sempat kau temui bahkan sampai beberapa hari berturut-turut. Aku kapan?
Aku iri dengan dia yang selalu bisa kau antar jemput. Aku kenapa terus dibiarkan menggunakan transportasi online? :")
Aku iri dengan dia yang sudah pernah kau ajak menonton film di bioskop. Kapan kau tunaikan janjimu untuk menonton film denganku?
Aku iri dengan dia yang bisa kau temani seharian sampai larut malam. Aku kenapa kau biarkan sendirian? 
Aku iri dengan dia yang kau ajak ke banyak tempat dalam satu hari. Tak pernahkah ada keinginan sedikit saja untuk membawaku pergi seperti dia?
Dia yang katanya teman biasa kau perlakukan seperti itu. Lalu aku ini apa? Lebih rendah dari teman biasa? :")
Pernahkah saat kau merasa ada atau merasa senang kau teringat aku?
Kenapa hanya menghampiriku saat sulit? Bukan, bukan aku perhitungan atau tak ikhlas. Aku selalu ingin membantu, aku tak bisa tak peduli. Hanya saja...aku juga terkadang ingin kau ajak senang, ingin jadi orang yang kau ingat saat merasa senang.
Sejujurnya, aku tak terlalu butuh kau ajak kesana kemari dan mengeluarkan banyak uang. Dengan kamu yang menyempatkan datang ke tempatku untuk sekadar bertemu melepas rindu, berbagi cerita tentang kehidupan, lalu pergi keluar untuk makan berdua di sekitar tempatku, sungguh, itu sudah sangat membuatku senang.
Hanya saja...aku sedang iri ternyata kau bisa melakukan banyak hal dengan orang lain yang katanya baru kau kenal, yang katanya teman biasa, sedangkan kau tak bisa melakukan hal yang sama denganku. Hehe.

(15/01/2019) Kau lanjutkan saja dengannya atau mungkin dengan yang lain lagi, terserah. Berbahagialah selalu. Aku berhenti saat kau akhirnya memblokirku di whatsapp kemarin. Aku sejak awal sudah bilang kalau aku tak sanggup dan tak bisa jika harus melepaskan duluan. Kemarin itu aku anggap jika kamu benar-benar tak ingin denganku lagi, detik itu juga aku berhenti. Aku tak ada alasan untuk bertahan ataupun mencoba untuk mengejar lagi. Bukan sudah tak peduli atau hilang rasa. Namun, aku hanya tak ingin memaksa orang yang ingin pergi untuk kembali karena aku tak ingin ada kepalsuan atau keterpaksaan nantinya jika dilanjutkan. Aku juga sudah melakukan terlalu banyak hal untuk mempertahankan semuanya selama ini, bahkan diamnya aku pun itu sebuah perjuangan yang aku lakukan. Kamu bayangkan saja, aku diam saat aku selalu tau tiap kau pergi dengan yang lain dan kau berbohong padaku. Aku selalu berusaha bersikap biasa saja terhadapmu seolah-olah aku tak tau apapun. Terbayang sakitnya? Aku harus terus mengiyakan semua kata-katamu yang sudah jelas aku tau kau sedang berbohong. Aku menjadi sebodoh itu untuk mempertahankanmu. Aku lelah. Terima kasih telah membuatku sadar bahwa aku tak berarti apapun, sehingga dengan mudah kau tinggalkan. Kau akhirnya menemukan alasan untuk pergi ya? Seolah-olah aku sudah melakukan hal yang sangat tidak bisa diampuni. Aku ingkar katamu? Aku bahkan tak ingat pernah mengucap janji itu. Aku tak menyangka kamu pergi karena alasan itu. Bagaimana denganku yang selama ini kau bohongi, kau kecewakan dan kau buat menangis? Tak  pernah aku semudah itu mengucap kata pisah. Bahkan di titik terendahku, saat dengan mataku sendiri aku melihat kamu dengan yang lain, aku masih saja bertahan dan mengucap dengan jelas bahwa aku kan menunggu. Aku ingkar katamu? Lalu kamu apa yang katanya akan menjaga kepercayaanku tapi kamu masih saja pergi dengan dia dan terus berbohong padaku. Tak usah mengelak, aku tau semuanya, tanpa kau beritahu, tak peduli seberapa dalam kau sembunyikan, aku tau. Dia membuatmu bahagia ya? Sampai sampai kau temui dia sesering itu. "Saat urusanku dengan dia selesai, aku tinggalkan kok dia!", dengan lantang kau mengucap itu di depanku. Itu hanya salah satu kebohongan yang kamu gunakan untuk keluar dari masalah saat itu kan? Tak heran jika masalah terus berdatangan padamu, karena kau juga terus menyelesaikan setiap masalah yang datang dengan kebohongan. Percayalah, serapat apapun kamu tutupi kebohongan, sedalam apapun kebohongan itu kamu sembunyikan, akhirnya kebohongan itu akan terungkap juga. Tak enak bukan hidup dalam kebohongan seperti itu? Berubahlah. Belajarlah untuk lebih menghargai. Terima kasih ya, entah untuk apa karena aku tak merasa diberi apapun sama sekali selain pelajaran hidup dan pengetahuan bahwa orang sepertimu itu ada. Terima kasih. :)